Kemiskinan, kata yang amat sering terlontar dan di dengar, tak mudah untuk menjabarkan maknanya, kemiskinan menjadi tanggung jawab kita bersama, terlepas dari segala faktor dan tolak ukur penyebab kemiskinan itu sendiri.
Saya
akan menyoroti potret kemiskinan di daerah pesisir pantai Alue Naga Banda Aceh.
Minggu petang 18 Sep 2011 saya berkeliling mengitari kawasan pantai Alue Naga yang ramai di kunjungi bila akhir pekan. Sembari menikmati hamparan pantai yang
indah, pandangan saya tertuju ke sebuah rumah, rumah yang jauh dari kelaikan
sebuah rumah lazimnya, tanpa pondasi yang menompangnya, beralaskan tanah dan
berdinding triplek yang di huni oleh Bpk Nakmin (50) beserta istri dan ke dua
anaknya yang masih balita. Dapat kita bayangkan bersama sungguh tempat tinggal
ini tidaklah laik bagi balita yang masih berumur 46 hari. Dengan terpaan angin
laut dan debu - debu jalannya. Bpk Nakmin dan Ibu nafriah sudah setahun menetap
di pinggiran kanal Krueng Aceh, mereka adalah pendatang yang mencoba mengais
rezeki dengan berkebun di lahan kosong milik kerabatnya. Bpk berkebun cabai,
jagung, sayur-sayuran. Pendapatanya dari berkebun tak seberapa, bila harga
cabai di pasar bagus, maka ia mampu mengantongi uang Rp 130.000/minggu, dengan
asumsi harga cabai 13.000/kg nya, apabila harga cabai anjlok, ia hanya mampu
mengumpulkan tidak lebih dari Rp 30.000/minggu, sangatlah jauh bila di
bandingkan dengan pengeluaran yang harus ia penuh setiap harinya, untuk makan
sehari- hari saja tidak cukup, belum lagi untuk membeli susu ke dua buah
hatinya yang harganya relatif mahal, dalam seminggu 1kg susu di konsumsi. Beban
yang harus di pikul bapak bertambah besar ,di perparah dengan tidak adanya
jaringan air bersih di kawasan tersebut, dengan berat hati mereka rela
mengeluarkan uang sebesar Rp 30.000 untuk membeli air bersih untuk keperluan
mandi, mencuci dan minum. Sangat ironis memang, dengan program- program pro
rakyat Pemkot Banda Aceh, yang tidak menyentuh semua kawasan dan lapisan
masyarakat di kota Banda Aceh. Inilah potret kemiskinan masyarakat pinggiran
kota Banda Aceh yang terabaikan hak-haknya dalam menjalani kehidupan yang
selaiknya.
 |
| Dapur |
 |
| Kamar tidur beralaskan tikar |
 |
| Bagian depan rumah sebagai tempat mencuci |
 |
Dapur bagian dalam
|
 |
| Ruang Tamu beralasakna kadus bekas |
 |
| Kondisi rumah dari bagian depan |
0 komentar:
Posting Komentar